AGEN PULSA

Jumat, 03 Juni 2011

Hadapi Deltras, Persipura Tanpa Lima Pilar Utama di Sidoarjo


Hadapi Deltras, Persipura Tanpa Lima Pilar Utama di Sidoarjo
LIGA INDONESIA,-  Hasil imbang antara Persija Jakarta kontra Semen Padang tentu menguntungkan Persipura Jayapura. Sebab, satu poin tambahan untuk dua klub itu tak mengurangi secara signifikan selisih poin dengan Persipura.

Kini Persipura yang ada di puncak klasemen Djarum Indonesia Super League (ISL) sudah mengoleksi 51 angka. Otomatis klub berjuluk Mutiara Hitamini unggul 8 angka dari Semen Padang dan 9 poin atas Persija Jakarta. Jadi, mereka pun wajib kembali memaksimalkan laga tandangnya di Jawa Timur. Setelah mengalahkan Persela Lamongan pada 31 Mei lalu, selanjutnya Persipura dijamu klub yang sedang bermasalah Deltras Sidoarjo, Sabtu 4 Juni.

Peluang Persipura menang atas Deltras sebenarnya terbuka. Penyebabnya kondisi internal klub ini sedang tak bagus plus kekalahan 0-3 dari Arema Indonesia akhir pekan lalu. Sayang, Persipura datang ke Sidoarjo juga dengan bermodal kondisi tak bagus sejumlah pemainnya. Satu di antara lima pemain Persipura yang bakal absen adalah jenderal lapangan tengah Zah Rahan Krangar.

Mantan pemain Sriwijaya FC itu tak bisa tampil karena memenuhi panggilan tim nasional (timnas) Liberia untuk persiapan Kualifikasi Piala Afrika 2011.

”Setelah lawan Persela, dia sudah langsung kembali ke negaranya. Zah Rahan harus memperkuat timnas Liberia untuk Kualifikasi Piala Afrika 2011,” ungkap Pelatih Persipura Jacksen F Tiago.

Selain Zah Rahan, Persipura juga kehilangan Lukas Mandowen. Pemain mungil yang dikenal memiliki speed tinggi itu terkena sanksi akumulasi kartu kuning. Sementara tiga pemain lain juga belum bisa turun. Mereka adalah Hamka Hamzah,Imanuel Wanggai, dan kiper Yoo Jae-hoon. Ketiga pemain ini dalam beberapa pertandingan terakhir sudah harus diparkir karena mengalami cedera.

Cedera paling parah, menurut Jacksen, dialami Hamka. Bahkan, defender timnas Indonesia itu sudah divonis tim medis klubnya harus istirahat minimal dua bulan untuk bisa kembali merumput.

”Sampai akhir kompetisi, Hamka kemungkinan besar sudah tidak lagi bisa tampil. Tapi untuk di Piala AFC, tenaganya masih kami perlukan. Kami harapkan dia segera pulih dari cederanya,” kata Jacksen.

Kondisi pincang ini tetap membuat Jacksen cemas, meski kekuatan Deltras di atas kertas masih di bawah Persipura. Sekarang Persipura berada di puncak klasemen, sedangkan Deltras berada di peringkat 2 dari bawah.

LPI dan Era Sepakbola Industri

Jakarta– Publik sepakbola tanah air hingga saat ini masih memperbincangkan “persaingan” antara kompetisi  Liga Super Indonesia (LSI) yang dihelat PSSI dengan kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang digulirkan PT Liga Primer Indonesia. Mereka juga bertanya-tanya, seperti apa nanti bentuk kompetisi liga sepakbola profesional Indonesia setelah pengurus baru PSSI terbentuk.
Sangat wajar bila masyarakat penasaran dengan LPI, karena kompetisi bermotto Change The Game ini sudah mengusung sepakbola yang profesional dan mandiri, tanpa menggunakan uang rakyat melalui APBD, sejak mulai bergulir pada 8 Januari lalu di Stadion Manahan, Solo. Sebagai laga pembuka, ketika itu berhadapan tuan rumah Solo FC melawan Persema, Malang.
Kalau ada PSSI, kenapa harus ada LPI? Perlu diketahui, LPI adalah sebuah badan usaha sah secara hukum di Indonesia yang menjalankan kompetisi liga profesional mandiri tanpa penggunaan dana APBD/APBN seperti diamanatkan dalam Kongres Sepakbola Nasional (KSN) di Malang, Maret 2010.
Hasil-hasil keputusan KSN sudah diterima oleh seluruh masyarakat pecinta sepakbola di Indonesia, mulai pemerintah, KONI Pusat, PSSI, media massa, tokoh masyarakat , dan seluruh masyarakat pencinta sepakbola nasional.
KSN digelar karena keprihatinan pemerintah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dan seluruh masyarakat pencinta sepakbola nasional menyikapi prestasi sepakbola nasional yang berada di titik nadir,  terutama setelah kegagalan yang memalukan di SEA Games Laos 2009.
Kala itu timnas U-23 tidak pernah menang pada penyisihan grup, sehingga harus angkat koper lebih awal. Senasib dengan tim U-23, timnas senior juga menelan kekalahan dan tersingkir dari babak kualifikasi Piala Asia 2011.
Kompetisi LPI adalah liga profesional mandiri menuju sepakbola industri tanpa menggunakan dana APBD. Sedangkan PSSI justru melindungi liga lain yang menggunakan dana APBD, yang notabene uang dari pajak rakyat. Asal tahu saja, tak satu pun liga profesional di dunia yang menggunakan uang atau pajak rakyat dalam menjalankan kompetisinya.
Tak cuma mandiri, LPI juga membuka pasar dan menghindari praktik monopoli melalui proses tender terbuka untuk kerjasama jangka pendek. Saat ini Indosiar menjadi official tv partner LPI, dan nanti akan disusul stasiun televisi lain.
Nilai kontrak hak siar LPI pun jauh lebih tinggi dibanding nilai kontrak hak siar kompetisi liga lainnya. Bandingkan dengan PSSI yang menyetujui hanya satu stasiun televisi dengan kontrak jangka panjang – dengan nilai kontrak yang sama setiap tahunnya – selama 10 tahun di kompetisi liga lainnya.
Sebagai produk yang dihasilkan dari KSN 2010, LPI juga ingin diakui oleh PSSI. Terlebih lagi, LPI adalah kompetisi liga profesional mandiri yang dapat mendorong sepakbola industri dengan efek ekonomi yang begitu dahsyat, mulai usaha kecil menengah hingga perusahaan multinasional.
Kenyataannya, sampai Senin, 10 April 2011, PSSI tidak mengakui LPI, kendati juga tidak bisa melarang. LPI tetap jalan dengan payung hukum pemerintah melalui Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.
Barulah pada Senin, 11 April 2011, Kominte Normalisasi (KN) bentukan FIFA mengakomodir LPI. Berdasarkan petunjuk FIFA, Komite Normalisasi memutuskan, mengakomodir seluruh kegiatan LPI di bawah supervisi PSSI sampai kompetisi berakhir. Setelah turnamen berakhir, KN meminta agar konsorsium LPI melapor kepada pengurus baru PSSI guna membahas kelanjutannya dalam sebuah kongres.
Sebagai implementasi rumusan dari KSN di Malang, Maret 2010, LPI merupakan wujud  reformasi kompetisi liga profesional mandiri menuju sepakbola industri yang tidak menggunakan lagi APBD. LPI juga berfungsi sebagai Sport Science Institute dan pembinaan sepakbola berjenjang, mulai kompetisi strata dua (profesional), kompetisi strata tiga dan empat (amatir), serta kompetisi usia muda.
PT LPI adalah pengelola liga profesional independen yang didirikan oleh klub-klub profesional dengan menganut azas pembagian manfaat secara transparan dan akuntabel kepada klub peserta. Klub peserta LPI tetap mempertahankan statusnya sebagai anggota PSSI (bukan keluar dari PSSI!).
Konsep reform league atau liga profesional mandiri adalah konsep yang sesuai dengan anjuran FIFA For the Good of the Game Task Force dan AFC Pro-League Committee. Ditinjau dari kepemilikan, saham klub-klub yang bernaung di bawah PSSI adalah 0 persen. Saham klub-klub itu justru dimiliki PSSI (95 persen) dan Yayasan (5 persen). Sementara di PT LPI, 100 persen saham dimiliki oleh klub masing-masing. Nantinya klub-klub LPI akan menjadi milik publik. (Sumarlin)
No Unsur Kondisi Liga Sekarang Aspirasi LPI
1 Badan Pengatur PSSI BOPI (per-6 Januari 2011)
2 Badan Penyelenggara PT Liga Indonesia  PT LPI
3 Afiliasi Regional AFC AFC
4 Afiliasi Internasional FIFA FIFA
5 Kepemilikan Saham PSSI 95%, Yayasan 5%, Klub 0% 100% Klub
6 Pembagian Hak Siar Hanya Match Fee 100% Klub
7 Pembagian Sponsor Utama 0% 100% Klub
8 Wasit Lokal dan Kotroversial Asing dan Imparsial
9 Pendanaan APBD Non APBD
10 Kontrak Pemain kepada Individu di Klub kepada Badan Legal berupa PT
11 Komdis dan Komding Berasal dari PSSI Independen

 

Cendrawasih Papua Berencana Ganti Pelatih

Jakarta– Performa yang buruk selama paruh musim pertama kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI), membuat jajaran manajemen Cendrawasih Papua segera berbenah. Salah satunya dengan mengevaluasi pelatih Uwe Erkebrecher. Pelatih asal Jerman ini dikabarkan bakal didepak dari skuad tim asal ujung Timur Indonesia itu.
Indikasi rencana pendepakan itu diungkapkan Benyamin Jensenem. Menurut  Manajer Tim Cendrawasih Papua itu, Uwe tidak menghadirkan prestasi apa-apa pada timnya. Hingga akhir putaran pertama kompetisi, Cendrawasih Papua menduduki posisi paling buncit.
“Memang, sampai saat ini belum ada evaluasi secara resmi. Namun, kita sudah berancang-ancang tidak akan memakai Uwe lagi,” ungkap Benny, panggilan akrab benyamin Jensemen. Jika melihat penampilan Cendrawasih Papua, tim yang bermarkas di Jayapura ini memang sangat mengenaskan. Dari 18 kali bermain, mereka hanya menang satu kali, empat kali seri, dan 13 kali kalah. Sedangkan poin yang diperoleh hanya 7, dengan selisih 18 memasukkan dan 44 kemasukan, atau minus 26.
Menurut Benny, desakan penggantian Uwe juga didasarkan pada berbagai masukan dari tokoh sepakbola maupun masyarakat Jayapura. “Salah satu pertimbangan kami tidak akan memakainya, Uwe sangat ketat dan terlalu disiplin dalam melatih,” kata Benny.
Uwe, menurut Benny, terlalu profesional untuk ukuran masyarakat di Jayapura. “Dia tidak menggunakan pendekatan dan kearifan lokal kepada masyarakat. Apalagi, tim kami kan termasuk klub baru, jadi dia terlalu over,” jelasnya.
Salah satu contohnya, hingga kini para pemain Cendrawasih Papua masih terus berlatih meski lagi libur kompetisi. Bahkan, Uwe menginstruksikan pemain-pemainnya untuk terus berlatih secara rutin.
Noah Meriam sebelumnya juga mengungkapkan, para pemain mengeluh karena mereka terus dipacu berlatih padahal kompetisi paruh musim sudah habis. “Bagaimana ini? Semua pemain tim-tim lain pada libur. Masak kami disuruh latihan terus,” ungkap asisten pelatih Cendrawasih Papua itu. Benny  memutuskan, Minggu (5/6) akan meliburkan pemainnya.  
Benny sendiri sudah punya gambaran beberapa calon pelatih yang bakal menggantikan posisi Uwe Erkebrecher. Di antaranya, Slave Radovski dari Macedonia. Selama ini, Slave berduet degan Noah Meriam sebagai asisten pelatih.
Pelatih Uwe Erkebrecher sebenarnya punya pengalaman cukup tinggi. Sebelum menukangi Cendrawasih Papua, dia pernah melatih beberapa klub Eropa. Di antaranya,  FC Koln Jugend, dan FC Carl Zeiss Jena di Jerman.

Kamis, 02 Juni 2011

BERANIKAH KALIAN UNTUK SUKSES!!!!

 
Kompetensi Saja Sudah Cukup?
Idealnya lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan melakukan analitis, yaitu merubah persoalan yang rumit menjadi sederhana. Kemampuan analitis dapat digunakan untuk mengungkapkan kemungkinan resiko dan peluang pendirian sebuah usaha.
Sayangnya kebanyakan lulusan perguruan tinggi lebih menonjolkan aspek munculnya dampak negatif daripada peluang bisnis itu sendiri. Sehingga mereka tidak memiliki keberanian untuk memulai usaha.
Bagaimana mungkin cukup bagi penyelenggara program studi hanya dengan mengandalkan mata kuliah kewirausahaan (2 sks) untuk dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknologi dan spirit kewirausahaan (technopreneurship). Apalagi sistem perkuliahaan kewirausahaan lebih banyak di ruang kelas.

Modal Usaha sebagai Penghambat?
Selanjutnya aspek permodalan adalah salah satu faktor penghambat lahirnya wirausahawan muda. Modal dianggap segala-galanya. Perhitungan investasi, operasional, dan tingkat pengembalian modal menjadi begitu rumit dan menakutkan. Sehingga mereka lebih memilih sebagai sosok pencari kerja daripada membuka usaha dan lapangan kerja.
Modal usaha penting tetapi bukan dijadikan alasan untuk tidak memulai usaha. Modal merupakan sumberdaya kekayaan perusahaan. Pemodal berarti pemilik modal. Sedangkan Modal tidak selalu dalam wujud uang. Sehingga Pemodal adalah pemilik sumberdaya yang bukan selalu uang.

Keberanian = Faktor Kunci
Jadi bagi seseorang yang tak memiliki uang terbuka peluang untuk menjadi pemilik usaha “bussines owner”. Pernyataan banyak orang bahwa modal non uang adalah modal dengkul. Dengan bermodalkan dengkul kaki sendiri, seseorang dapat menahan beban dan berjalan serta beraktivitas usaha. Artinya tanpa diawali modal uang sebuah usaha dapat berdiri dan berjalan serta tumbuh dan berkembang membawa harapan pemiliknya.
Kalau seseorang tidak memiliki dengkul sendiri, gunakan dengkul orang lain. Orang lain tidak akan pernah marah sepanjang ada konpensasi yang menarik dan fleksibel. Membangun kemitraan permodalan merupakan kombinasi yang rasional dan menjadi kekuatan lebih besar daripada modal dengan dengkul sendiri.
Keberanian mengambil resiko adalah syarat utama untuk menjadi pebisnis. Keberanian memulai usaha dengan modal dengkul menandakan kapasitas, kekuatan dan daya saing pebisnis itu sendiri. Semua orang memiliki potensi menjadi pebisnis modal dengkul. Perbedaan menyolok satu dengan yang lain adalah keberanian bertindak.
Sikap berani bertindak mampu mengeliminir hambatan terbesar merintis bisnis, yaitu permodalan. Hambatan ketidaktersediaan modal hendaknya jangan dijadikan alasan untuk tidak memulai, tetapi sebaiknya memicu lahirnya kreatifitas dan gagasan yang gemilang.
Setiap gagasan atau ide yang lahir dari rahim seorang tak ber-uang memiliki daya tahan untuk bertahan dan berpotensi tumbuh berkembang.
SUMBER: nova-rachmad.blogspot.com

BERANIKAH KALIAN DENGAN MODAL MINIMAL DAN MENDAPATKAN HASIL YANG MAKSIMAL?
-IMPOSIBLE IS NOTHING-